200 Tahun Perang Jawa: Komunitas Sigrak Bawono Gelar Sendratari “Tapak Tilas Sang Ksatria” di Magelang



Magelang, 20 Juli 2025 — Dalam rangka memperingati 200 tahun Perang Jawa (1825–2025), Komunitas Sigrak Bawono Team menghadirkan sebuah pertunjukan seni monumental bertajuk Sendratari “Tapak Tilas Sang Ksatria” di Gedung Loka Budaya, Alun-Alun Kota Magelang. Pagelaran ini menjadi penanda penting atas komitmen generasi muda dalam menjaga api perjuangan sejarah melalui media seni pertunjukan yang sarat makna dan nilai kebangsaan.

Pagelaran ini disutradarai langsung oleh Tiko Yuniarto, Ketua Komunitas Sigrak Bawono Team, yang juga menulis naskah sendratari tersebut. Proses penulisan naskah dilakukan melalui riset mendalam terhadap berbagai referensi buku sejarah dan cerita lisan yang berkembang di masyarakat, khususnya di wilayah Kedu dan Magelang, tempat di mana jejak perjuangan Pangeran Diponegoro masih terasa hingga kini.

> “Kami tidak sekadar menampilkan cerita sejarah. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap perjuangan para leluhur yang mempertaruhkan segalanya demi kemerdekaan dan harga diri. Seni adalah bahasa yang hidup untuk membangkitkan kembali kesadaran kita akan akar sejarah dan identitas bangsa,” ujar Tiko dalam wawancara usai pementasan.



Pertunjukan ini digarap secara kolaboratif dengan dukungan penuh dari berbagai komunitas dan elemen budaya, seperti Komunitas Kyai Tuk Songo, Konco Dewe Face Painting, Raras Pratiwi Art Community, Sanggar Cipta Mandiri, Padepokan Gubug Kebon, serta beberapa relawan seni dari Magelang dan sekitarnya. Mereka terlibat dalam seluruh proses produksi mulai dari tata rias, artistik, hingga pelatihan pemain.

Mila Diah Al bertindak sebagai Pimpinan Produksi, memastikan jalannya proses kreatif hingga pementasan berjalan dengan tertib dan maksimal. Peran perempuan dalam produksi ini juga menjadi sorotan tersendiri karena mencerminkan semangat kolaborasi dan pemberdayaan dalam dunia seni lokal.

Sendratari “Tapak Tilas Sang Ksatria” menggambarkan perjalanan spiritual dan fisik Pangeran Diponegoro sebagai simbol ksatria sejati — mulai dari perenungan batin, konflik dengan kolonial, hingga penangkapan di Magelang. Semua elemen dikemas dalam narasi visual yang puitis, didukung tata cahaya dramatis dan iringan musik tradisional yang diselaraskan dengan unsur teatrikal.

Penonton diajak menyelami nuansa batin perjuangan melalui adegan-adegan yang kuat secara gerak, dialog, dan simbolik. Pementasan ini pun mendapatkan sambutan meriah dari masyarakat, seniman, budayawan, pelajar, hingga tokoh pemerintahan lokal.

Perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya terhadap karya ini, menyebutnya sebagai bentuk nyata dari pelestarian sejarah melalui pendekatan kekinian yang menyentuh berbagai kalangan.

> “Tapak Tilas Sang Ksatria bukan hanya pementasan, tapi seruan bagi kita semua untuk tidak lupa pada sejarah dan nilai perjuangan. Sigrak Bawono telah membuktikan bahwa seni bisa menjadi media perlawanan, penyadaran, dan pewarisan nilai luhur bangsa.”



Sebagai penutup acara, seluruh pemain, pendukung acara, dan penonton bergandeng tangan dan menari bersama di atas panggung maupun area penonton. Momen ini menjadi simbol suka cita dan rasa syukur atas terselenggaranya acara tanpa hambatan apa pun. Tarian bersama ini mencerminkan semangat persatuan dan kebahagiaan yang mengalir dari panggung ke hati masyarakat sebuah penegas bahwa seni mampu menyatukan, menguatkan, dan merayakan kehidupan bersama.

Komentar

  1. Semangat juang yang membara bangkitkan rasa dalam mengisi era kemerdekaan dengan meningkatkan kreatifitas di berbagai bidang.

    BalasHapus
  2. Semangatt trs sutradaraku ditunggu karya2 selanjutnya ✨

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer